Roni Mulyana

Fasilitator

Roni Mulyana

Saya bukan trainer.
Saya yang bangun sistemnya.

Di workshop ini saya tidak berdiri di depan kelas. Saya duduk di sebelah kamu waktu kerjaanmu dibongkar — dan kalau macet, saya ikut membetulkannya.

Sistem AI yang saya bangun memproses jutaan panggilan API tiap bulan.

Bukan demo. Jalan hari ini juga, sambil kamu baca halaman ini.

Masih menulis kode
sampai hari ini
Dari rollout telco
sampai SaaS AI

Lihat jadwal workshop →

Kenapa saya?

Bukan soal gelar.

Saya masih ngoding tiap hari.

Sampai sekarang masih handle production. Jam 3 sore waktu workflow kamu error, saya bisa lihat kenapa.

Demo itu gampang. Yang susah bikin tetap jalan.

Saya tahu apa yang biasanya rusak minggu depan, karena saya yang harus memperbaikinya.

Kerjaan seperti kerjaan kamu sudah pernah saya lihat.

Pabrik, retail, agency, UMKM — dari dalam, bukan dari studi kasus.

Saya terbiasa dengan sumber daya terbatas.

Yang saya usulkan harus jalan dengan tim dan anggaran yang kamu punya sekarang.

Rekam jejaknya ada di LinkedIn kalau kamu mau cek sendiri.

Satu contoh: laporan mingguan.

Bukan studi kasus. Kerjaan biasa.

Laporan mingguan. Tiap Jumat, dan bentuknya selalu sama. Datanya datang dari beberapa tempat dengan format yang tidak pernah sama — sebagian di spreadsheet, sebagian di email, sebagian harus ditanya dulu ke orang lain.

Ke mana waktunya
  • Kumpulkan data2 jam
  • Bersihkan dan gabung1 jam
  • Analisis & buat ringkasan1 jam
  • Tulis laporan30 menit

Total: ~4,5 jam

Yang biasanya dirombak duluan — dan kenapa itu keliru

Yang pertama dirombak orang biasanya bagian menulisnya. Masuk akal — itu bagian yang paling kelihatan, dan paling terasa seperti pekerjaan AI. Tapi lihat lagi angkanya di atas. Menulis makan 30 menit dari empat setengah jam. Empat jam sudah habis sebelum satu kalimat pun ditulis. Jadi kalau kamu memperbaiki prompt sampai sempurna, yang 30 menit itu jadi 10. Empat jam sisanya tidak bergerak sedikit pun. Bagian yang berat bukan soal cara bertanya — itu soal urutan kerjanya.

1

Bentuknya ditetapkan sekali

Tiap Jumat kamu memutuskan ulang laporan ini isinya apa. Itu keputusan yang cukup diambil satu kali.

2

Yang tetap dipisah dari yang berubah

Begitu keduanya terpisah, yang benar-benar baru tiap minggu tinggal sedikit.

3

Pemeriksaan jadi satu langkah

Di akhir, sekali — bukan kekhawatiran yang menempel di sepanjang jalan.

Contoh ini ilustrasi. Hari itu, yang dibongkar punya kamu.

Yang tidak saya
serahkan ke AI.

  • Angka yang jadi dasar keputusan. AI boleh merangkum; yang memastikan benar tetap orang.
  • Keputusan yang menyangkut orang lain.
  • Tanggung jawabnya. Kalau laporan itu salah, bukan AI yang berdiri di depan manajemen.

Kerjaan yang sudah pernah saya lihat.

Pabrik

Laporan produksi yang disalin ulang tiap pergantian shift.

Retail

Stok dan harga yang dipindah tangan antar aplikasi.

Agency

Proposal yang ditulis dari nol tiap klien baru.

UMKM

Pesanan dan pembayaran yang masih dicatat manual.

Kalau kerjaan kamu belum ada di sini, bentuknya kemungkinan besar mirip.

Jam 9 sampai 5.
Dari sisi saya.

Kamu sudah tahu hari itu isinya apa. Ini yang saya kerjakan selama kamu mengerjakannya.

  1. 09.00

    Dengar

    Kamu cerita kerjaannya. Laptop belum dibuka.

  2. 11.00

    Bongkar

    Kita petakan langkahnya, cari yang makan waktu.

  3. 13.00

    Bikin

    Kamu yang mengerjakan. Saya keliling.

  4. 15.00

    Macet

    Yang tidak jalan, kita betulkan bareng.

  5. 17.00

    Jalan

    Pulang dengan workflow yang sudah kamu coba sendiri.

Sampai
ketemu!

Kerjaan kamu, dibongkar bareng.

Tidak perlu jago AI, dan tidak perlu siap-siap.

Bawa satu pekerjaan yang tiap minggu bikin kamu capek.