Inspirasi


By Muhammad Umar Safari
11/02/2016 - 11/02/2017
Perwira AbA Klaten Jateng



Deskripsi Kegiatan

Kedudukan Nabi Muhammad SAW telah direndahkan oleh musuhnya ke titik terendah. Duka dan kesedihan yang selalu melingkupi kehidupan Nabi SAW bagai sempurna dengan mangkatnya Abu Thalib dan Khadijah.

Muncul pemikiran untuk berdakwah ke Thaif ketika warga Mekah menolak. Setelah dicoba, ternyata hanya menghasilkan lemparan dan darah. Kesedihan dan duka Nabi SAW bertambah. Di tengah suasana ini, Allah memberi hiburan kepada utusan-Nya. Beliau SAW diundang untuk  langsung menghadap kepada-Nya. Kedudukan yang tinggi, tidak pernah ada yang menyamai, apalagi mengunggulinya baik jin, malaikat, para nabi, apalagi manusia biasa.


Pada suatu malam, saat Nabi SAW sedang tidur, beliau dibangunkan Jibril AS. Jibril mendapat perintah untuk menjemput Nabi SAW. Tak lama kemudian mereka berdua melakukan Isra (perjalanan malam) ke Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Dari Masjid Al Aqsa, perjalanan dilanjutkan dengan mikraj, naik menuju ke langit pertama. Tak berhenti di situ, perjalanan diteruskan dengan naik ke langit kedua, ketiga dan seterusnya hingga langit ketujuh. Perjalanan belum berhenti, Jibril mengantar Nabi SAW menyaksikan Bait Al-Makmur, Arsy dan Sidrah Al-Muntaha (tempat yang tiada batas), akhirnya ke Haribaan Allah SWT.

Al-Imam Suyuthi di dalam kitabnya Al-La'ali Al-Masnu’ah, meriwayatkan peristiwa tersebut : "Ketika aku dibawa dalam perjalanan malamku ke Arsy, dan mendekatinya, selembar rafraf (kain brokat halus) hijau digelar untukku; sesuatu yang amat indah untuk dapat kugambarkan kepadamu, sedang Jibril mendahuluiku dan mendudukkanku di atasnya. "Kemudian ia menarik diri dariku dan meletakkan tangan di matanya karena takut pandangannya rusak oleh cahaya Arsy yang berkilauan, kemudian Jibril mulai menangis keras dengan menyebut puji-pujian, tasbih dan tahmid serta tathniyah kepada Allah... "

"Dengan izin Allah; sebagaian tanda kasih-Nya dan kebaikan-Nya yang sempurna kepadaku, rafraf itu mengangkatku kepada [Haribaan] Penguasa Singasana, sesuatu yang terlalu menakjubkan bagi lidah untuk dapat menceritakannya dan bagi khayalan untuk dapat menggambarkannya...".

(Imam Suyuthi, seperti yang dikutip Sayyid Hussein Nasr dalam Muhammad Kekasih Allah).

Nabi berjumpa dan berdialog dengan Allah, berdua, tanpa Jibril atau makhluk lain yang tak dikaruniai oleh-Nya izin dan kemampuan. Dialog Nabi SAW dengan Allah SWT inilah yang menjadi puncak ketinggian kedudukan Nabi SAW. Dalam pertemuan tersebut, beliau menerima perintah salat Iima waktu. Keesokan harinya, Jibril AS datang pada lima waktu salat. Dia mengajarkan dan mempraktikkan tatacara pelaksanaan salat kepada Nabi SAW. Berita mengenai Isra Mikraj Nabi  SAW menguatkan iman sebagian besar pemeluk Islam dan menanggalkan iman sebagian kecil di antara mereka. Kejadian ini bagai filter bagi umat masa itu. Tak lama kemudian ada perintah hijrah. Disusul kemudian dengan jihad yang memerlukan pengorbanan jiwa. Tanpa keimanan dan keyakinan yang teguh dan terhunjam di hati, perintah ini akan berat untuk ditaati.

Bagi Nabi SAW sendiri, peristiwa ini juga sebagai peningkatan keyakinannya. Bila sebelumnya pada tataran yakin, kini telah meningkat menjadi ainul yakin. Para nabi, malaikat, surga, neraka dan lain-lain, yang sebelumnya telah beliau yakini, saat itu beliau saksikan dengan mata kepala sendiri. Dan lagi-lagi, inilah ketinggian kedudukan beliau SAW Namun, puncak ketinggian kedudukan ini bukan didapat dengan mudah. Nabi SAW telah mengalami berbagai tahapan penggemblengan. Akhirnya beliau diundang karena memang pantas untuk mendapatkannya.


0

0 total
5
0%
4
0%
3
0%
2
0%
1
0%

SHARE THIS




Kalender